Nama : Muhammad Fajaruddin Akbar
NIM : 135150301111085
Jurusan : Sistem Komputer
Kelompok : 63
URL : http://uddin-penggerakwawasan.blogspot.com/
JATI DIRI PENGGERAK WAWASAN PEMUDA INDONESIA
Sekarang
ini generasi muda indonesia telah mengalami krisis kebangsaan.Hal itu
dapat dibuktikan dengan banyaknya generasi muda yang saat ini telah
berprilaku tidak sesuai dengan butir-butir pancasila.Sebagai contoh
yaitu sekarang ini banyak generasi muda yang tidak bertaqwa kepada Tuhan
YME. Kita lihat saja,sekarang ini banyak pemuda-pemudi muslim yang
tidak memegang teguh agamanya dan syariah Islam. Seperti banyaknya
pemuda-pemudi yang sekarang ini menjalin cinta kasih dengan pasangan
yang bukan muhrimnya. Dan tidak jarang juga hal tersebut sampai kepada
prilaku yang memalukan yaitu berhubungan sek bebas dengan pasangan yang
bukan muhrimnya. Serta sekarang ini moral para pemuda bangsa indonesia
juga dijajah melalui beredarnya vidio-vidio porno diinternet yang dapat
diakses dengan mudah. Selain itu,model-model pakaian para generasi muda
saat ini kebanyakan telah mu bangsa barat yang dikenal modis dan meniru
bangsa barat dan menghilangkan jati diri bangsa indonesia asli. Mereka
lebih bangga mengenakan pakaian-pakaian model barat yang mareka anggap
lebih modis dan ngetren. Padahal belum tentu model pakaian tersebut
cocok dikenakan diindonesia. Terutama model pakaian cewek yang terlalu
terbuka sehingga menimbulkan gairah lawan jenisnya yang mengakibatkan
banyaknya kasus pemerkosaan di negeri ini. selain masalah
penampilan,masalah akhlak pemuda dinegara indonesia ini juga kian
memburuk. Faktanya generasi muda saat ini banyak yang melampiaskan
masalah-masalah yang sedang meraka hadapi seperti ketika putus dengan
pacar,bertengkar dengan orang tua,merasa terasing dengan lingkungan
teman,dan ketika pusing dengan beban-beban tugas sekolah yang begitu
berat. Mereka mengatasi masalah-masalah tersebut dengan jalan pintas.
Seperti minum miunuman keras,menggunakan narkoba,pergi ke tempat-tempat
hiburan malam dan bahkan sampai ada yang mengakhiri hidupnya dengan
bunuh diri. Sungguh ini merupakan kerusakan moral dari jati diri bangsa
yang begitu fatal. Selain moral dan gaya hidup, ketaqwaan generasi muda
bangsa indonesia yang mencermainkan sila pertama juga luntur seperti
contoh nyatanya banyak generasi muda muslim indonesia yang tidak bisa
membaca al-qu’an. Hal itu terjadi karena lemahnya sistem pendidikan
agama di negara ini. Padahal sebenarnya jika generasi muda mempunyai
ketaqwaan yang tinggi pasti tidak akan ada tindakaan –tindakan yang
melanggar hukum seperi korupsi, kolusi, pelecehan seksual, dan tindakan
menyimpang lain, karena mereka menganggap dirinya selalu di awasi oleh
Yang Maha Kuasa sehingga mereka takut dosa dan akan selalu berbuat baik.
Disamping fakta-fakta diatas tentang sila pertama,diparagraf ini akan
mengemukakan fakta tentang sila kedua sebagai jati diri bangsa
indonesia. Sekarang ini banyak diantara pemuda indonesia yang tidak
memanusiakan manusia lain. Maksudnya yaitu mereka tidak menganggap
manusia berhakekat sebagai manusia yang mempunyai hak dan kewajiban yang
harus dihargai. Sebagai contoh nyata yaitu sekarang ini banyak
kasus-kasus perkelahian antar pelajar yang disertai daengan penyiksaan
salah satu pihak yang kalah. Mereka menjadikan pihak yang kalah itu
sebagai bulan-bulanan dan dianggap sebagai boneka yang dapat
dimain-mainkan dan mereka siksa. Kasus lain yaitu adanya playboy
dikalangan remaja indonesia. Mereka menganggap wanita sebagai mainan
yang dapat di pergunakan sesuka hati untuk memuaskan nafsu birahinya
dan apabila telah bosan meraka buang sesuka hati tanpa menghargai wanita
sebagai manusia yang punya hati dan persaan. Dalam fakta lain yang
terjadi dan lebih parah yaitu adanya pemerkosaan yang dilakuakan oleh
para remaja Indonesia. Mereka memperlakukan orang yang ia perkosa
seperti mainan pemuas nafsu birahi tanpa mereka anggap sebagai manusia
yang mempunyai hak, dan perasaan. Dari kasus ini dapat kita peroleh
fakta-fakta mengenai terjadinya krisis yang terjadi pada jati diri
generasi bangsa Indonesia.
Lalu fakta-fakta lain yang terjadi yang mencerminkan terjadinya krisis
jati diri pada generasi muda sesuai sila ke-3 yaitu. Memudarnya rasa
persatuan dan kesatuan yang terjadi pada generasi penerus bangsa
Indonesia kita ini. Hal tersebut dapat kita lihat dari kasus-kasus
bentrok antar pelajar atau mahasiswa, bentrok antar seporter sepakbola,
bentrok antar genk, dan lain sebagainya. Dari kasus diatas dapat kita
ketahui bahwa rasa persatuan kita sebagai warga negara indonesia sudah
mulai luntur dan mudah dipengaruhi atau diprovokasi oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab. Keadaan seperti inilah yang menjadi
bibit-bibit terjadinya konflik yang lebih besar seperti konflik antar
agama, ras, maupun suku. Selain itu fenomena-fenomena yang terjadi yang
mencerminkan tidak tertanamkannya rasa persatuan indonesia yaitu
terjadinya perpecahan disetiap kelompok sosial. Sebagai contoh dalam
kelas sosiologi terdapat sub-sub kelompok kecil yang biasanya terjadi
konflik antar kelompok tersebut. Kelompok tersebut biasanya terbentuk
karena adanya perasaan sederajat (dalam hal ekonomi), kesukaan/hobi yang
sama, pandangan hidup yang sama, bahkan juga bisa karena musuh yang
sama. Hal inilah yang sekarang ini mewabah pada generasi penerus bangsa
yang cenderung membentuk perpecahan.
Selanjutnya fakta ke-4 yaitu mengenai kepemimpinan yang demokratis.
Maksutnya pemimpin di negara kita ini harus bersifat demokratis baik
dalam hal pemilihannya maupun ketika telah membuat keputusan/kebijakan
umum yang terkait dengan masyarakat karena kekuasaan tertinggi di negara
kita ini sebenarnya berada di tangan rakyat, dan para pemimpin hanya
sebagai wakil/pelayan bagi rakyat untuk mengatur dan mengambil kebijakan
dalam negara demi tercapainya kemakmuran bersama. Sekarang ini
fenomena-fenomena pemimpin yang tidak demokratis sudah banyak terjadi
pada generasi muda saat ini, dan apabila hal itu dibiarkan saja
berlanjut maka kelak ketika mereka menjadi pemimpin bangsa ini, mereka
akan bertindak seperti apa yang mereka biasakan saat ini. Contoh nyata
yaitu ketua dalam kelas sosiologi misalnya. Dia dalam mengambil
kebijakan untuk urusan kelas seperti hendak mengadakan acara pentas
seni, dia hanya mendiskusikan/memilih pengurus dalam acara tersebut
secara sepihak. Dia hanya berdiskusi dan menerima usulan dari
teman-teman yang dekat/akrab dengan dia, sebenarnya untuk formalitas dia
telah mengadakan musyawarah namun usul dari teman-temannya yang kurang
dekat dengan dia pasti tidak didengar apalagi dilaksanakan. Inilah
contoh kecil saja yang biasanya kita rasakan pada kelompok-kelompok
kecil dikalangan remaja Indonesia saat ini.
Selanjutnya mengenai keadilan, banyak fakta-fakta mengenai ketidak
adilan yang di lakukan oleh generasi muda bangsa Inonesia saat ini.
Tidak perlu jauh-jauh, saat ini dapat kita lihat pada kelompok belajar
kita saja sebagai faktanya. Dalam kelompok belajar PPKN misalnya, tugas
PPKN membuat makalah seperti ini saja ketidak adilan selalu kita
rasakan. Hal tersebut karena sebenarnya yang mengerjakan tugas kelompok
misalnya dari 8 anggota kelompok, yang mengerjakan hanya 3 orang dan
yang lainnya tinggal nitip nama padahal ia menginginkan mendapatkan
nilai yang sama. Sungguh ini adalah contoh kecil yang berada pada
kehidupan para pelajar sehari-hari. Jika hal ini berlanjut dapat kia
lihat para anggota DPR yang ketika sidang mereka ada yang tidur,
bertelfon, dan bahkan ada yang menonton fideo porno. Padahal mereka
menginginkan upah/gaji yang sama dengan yang melaksanakan musyawarah
dengan baik. Sebenarnya hal ini terjadi pada mulanya dimulai dari
kasus-kasus kecil seperti diatas yang kemuadian berlanjut karena
kebiasaan sampai mereka bekerja pada nantinya.
Dari kasus-kasus fakta diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Jati
Diri remaja indonesia saat ini sedang mengelami krisis. Karena Ideologi
Pancasila sebagai salah satu ciri khas bangsa Indonesia saja sudah tidak
mereka laksanakan sebagai pribadi mereka. Belum lagi apabila kita
jabarkan ke Ciri khas lainnya seperti bahasa, kita lihat bagaimana
bahasa yang digunakan oleh para remaja Indonesia saat ini, banyak
kata-kata yang tidak sesuai dengan kamus besar bahasa indonesia yang
mereka gunakan, apakah semboyan bineka tunggal ika telah dilaksanakan
dengan baik padahal saat ini banyak kasus-kasus tawuran antar
pelajar/mahaisiwa/gank karena kebinekaan diantara mereka, kemudian kita
lihat lagi cara mereka menghormati pengibaran bendera merah putih ketika
upacara bendera apakah mereka sudah khidmad dalam menjalankan upacara,
apakah banyak yang mengeluh karena panas, lama dan lain sebagainya,
belum lagi lambang kita, mereka supaya dianggap kreatif sering dengan
sadar/tidak memodifikasi lambang garuda pancasila dengan aneka tambahan
gambar/tulisan yang tidak wajar seakan tidak merasa atau tidak
menghormati sedikit pun sebagai lambang negara kita. Sungguh ini
merupakan fakta nyata krisis jati diri pada remaja Indonesia saat ini.
Sebenarnya cara yang paling baik untuk mengatasi masalah jati diri
remaja Indonesia seperti diatas yaitu dimulai dari diri kita sendiri.
Kita harus sadar terlebih dahula kemuadian berusaha merubah sikap kita
agar berkepribadian sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia. Selanjutnya
menurut saya agar masyarakat Indonesia mampu menjalankan nilai-nilai
pancasila dengan baik yaitu dengan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan
YME. Karena dengan ketakwaan dan keyakinan yang tingi masyarakat akan
mempunyai rasa takut terhadap dosa sehingga akan enggan berbuat salah
seperti korupsi, kolusi, penipuan, pencurian, pembunuhan, pelecehan
seksual, dsb. Pasti tidak akan terjadi. Namun jika
primordialisme terhadap agama yang dianut terlalu tinggi maka akan
mengakibatkan perpecahan juga. Hal ini dapat diatasi dengan menenemkan
sikap toleransi melalui pendidikan di sekolah umum. Maka dari itu
sebaikya pemerintah mewajibkan para generasi penerus untuk mendapatkan
program wajib belajar selain sekolah umum juga sekolah keagamaam seperti
madrasah/pondok pesantren bagi yang muslim. Sehingga untuk meningkatkan
ketakwaan agar tidak perprilaku menyimpang melalui program pendidikan
agama dan untuk mendapatkan pendidikan mengenai cara hidup
berkemajemukan dan keahlian melalui sekolah umum. Secara otomatis
apabila kita telah menanamkan kuat jati diri bangsa Indonesia pada diri
kita melalui cara-cara diatas, kita akan mempunyai filter dengan
sendirinya untuk memilih dan memilah pengaruh kebudayaan lain yang masuk
ke negara kita. Yang baik kita pakai dan yang buruk dan tidak sesuai
dengan jati diri bangsa Indonesia kita tinggalkan. Kemudian pengaruh
kebudayaan lokal juga dapat kita saring melalui pendidikan
kewarganegaraan di sekolah umum serta kita juga harus berusaha mengikis
primordialisme yang berlebihan pada diri kita.